Opini Mahasiswa terhadap Proses Pembelajaran di Bagian Mikrobiologi : Persiapan Implementasi kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Tahun 2006 Volume 41 Nomor 3
Oleh : Tri nur Kristina, Purnomo Hadi

Sejak dua dekade terakhir, beberapa laporan pada literatur international telah mengkritisi pendidikan kedokteran oleh karena demikian banyaknya informasi faktual yang harus dihapalkan oleh mahasiswa. The World Federation of Medical Education (WFME) pada tahun 2003, mengeluarkan standar global dan menganjurkan pengembangan kualitas kurikulum yang menekankan pada self directed learning dan long life learning . Standar tersebut ditujukan sebagai alat akreditasi oleh fakultas-fakultas kedokteran diseluruh dunia. Akhir-akhir mi, banyak perhatian yang ditujukan pada kebutuhan akan pengembangan kompetensi profesional dokter, sehingga para pendidik juga diharapkan turut bertanggung jawab untuk mempelajari paradigma ni agar dapat memproduksi dokter yang lebih berkompeten .
Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia II (KIPDI II) tahun 1994 merupakan kurikulum yang masih menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu sehingga gambaran dokter yang akan dihasilkan belum terinci secara eksplisit. Kurikulum ini telah disadari mengandung banyak beban yang harus dihapalkan oleh mahasiswa (the curriculum is overloaded with facts), serta banyak duplikasi dan beberapa disiplin ilmu. Selain itu tujuan instruksional umum maupun khusus pada umumnya dicantumkan pada level Cl dan C2 dan domain kognitif pada Blooms Taxonomy. Akibatnya pada saat rotasi klinik, kemampuan mahasiswa kurang memuaskan dalam mengintegrasikan ilmu dasar dengan ilmu klinik serta cenderung melupakan ilmu kedokteran dasar. Konsil Kedokteran Indonesia telah mengesahkan ‘Standar Kompetensi Dokter’, yang bertujuan untuk menghasilkan dokter yang trampil untuk upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan (UKP) strata pertama, dan fakultas kedokteran diharapkan dapat mengembangkan kurikulumnya sendiri atas dasar standartersebut.
Sejak 2002, fakultas kedokteran undip telah menyikapi akan adanya perubahan kurikulum ini dengan mengadakan beberapa inovasi, antara lain integrasi horizontal antar-bagian, Problem based learning (PBL) atau yang lebih dikenal dengan
istilah belajar bertolak dan masalah (BBDM), dan kepaniteraan komprehensif. Demikian pula dengan proses pembelajaran di bagian mikrobiologi, meskipun berdasarkari KIPDI II juga telah melakukan beberapa inovasi, antara lain integrasi intra-bagian, PBL, penugasan kelompok maupun mandiri, serta mengevaluasi mahasiswa dengan soal-soal ujian kasus berbentuk kluster yang bersifat integratif.
Menjelang akan dilaksanakannya kurikulum berbasis kompetensi, evaluasi program pendidikan perlu dilakukan. Oleh karena itu, bagian mikrobiologi bermaksud mengevaluasi proses pembelajarannya, dan persepsi mahasiswa dianggap sebagai sumber informasi yang cukup objektif. Hasil evaluasi ini diharapkan dapat dipakai sebagai masukan untuk proses pengembangan staf pengajar mikrobiologi pada khususnya dan pengembang kurikulum pada umumnya.

Simpulan: Mahasiswa dapat menerima boberapa inovasi yang dilakukan oleh bagian mikrobiologi untuk merangsang mahasiswa lebih aktif. Ditinjau dan sisi mahasiswa, bila direncanakan dengan matang dan memperhatikan saran mahasiswa tampaknya kurikulum berbasis kompetensi akan dapat diselenggarakan tanpa hambatan yang berarti. Beberapa keluhan mahasiswa diharapkan menjadi perhatian para staf pen gajar dan penyelenggara proses pendidikan secara keseluruhan.